Senin, 23 Maret 2009

Budak

Beberapa tahun yang lalu aku masih duduk di kelas 1 SD. Namun kini aku sudah mulai duduk di bangku kuliah. Di sini aku bertemu orang-orang hebat. Bahasa mereka juga berat-berat. Bahkan untuk bercanda pun perlu kening kening berkerut untuk dapat mencerna isinya. Tapi apa bedanya hidup dengan berbagai bahasa berat dengan hidup yang sekadar ha-ha-hi-hi. Sama saja ko. Waktu aku masih SD di kampungku banyak pengangguran begitu juga saat ini. Tapi toh mereka dapat menikmati hidupnya. Seperti Gito misalnya. Dia lebih tua tiga tahun dari pada aku. Kini ia sudah berkeluarga dan punya anak satu. Kebetulan dia sedang duduk di warung nenekku sambil minum kopi.
“Eh Gito. Gimana anak istri? Sehat kan?” ucapku sambil menjulurkan tangan kananku untuk memberi salam.
“Ya…beginilah. Kau sendiri gimana di Jakarta?”
“Hemm. Sama saja ma mas Gito.”
“Ngga usah bohong. Kau kuliah kan? Ngapain sih kau kuliah? Habis-habisin duit aja.”
“Ya gimana lagi mas. Mau cari kerjaan juga susah. Kebanyakan minta yang bertitel.”
“Tau ga. Aku tuh pernah dicritain sama mbahku kalau yang nyiptain lampu itu sekolahnya ga tinggi. Udah gitu dia ngga lulus-lulus. Nah orang yang sekolahnya tinggi aja bisa nyiptai lampu, emang kau udah nyiptai apa dengan sekolahmu yang tinggi itu?”
Kucoba mengalihkan pandanganku dari tatapan mas Gito. Aku bingung campur malu untuk menjawabnya. Aku kuliah tapi aku belum nyiptai karya apapun yang berguna bagi orang lain dan yang pasti aku masih bergantung pada pemberian orang lain untuk bayar kebutuhan kuliah dan kebutuhan sehari-hari termasuk buat ngerokok biar dilihat aku itu seorang pemikir jenius.
“Ko diem aja? Udah sante aja. Ngga Cuma kau aja kok yang seperti itu. Ayo ngopi dulu biar ngobrolnya nyante.”
Aku hanya tersenyum kecil dan kusruput sedikit kopi panas yang udah terhidang di depanku.
“Kapan mau kawin? Enak lo kawin itu. Malem ngga kedinginan dan kalau siang ngga kepanasan. Pokoknya enakan kawin daripada mbujang.”
Mendengar kata-kata Mas Gito tersebut, aku menjadi tersedak dan kuletakkan kopiku yang masih panas.
“Waduh kalau yang itu ntar-ntar aja mas. Aku belum cukup umur. Lagian aku masih kuliah, ntar kalau udah siap semuanya.”
“Bilang aja kau ini takut ma perempuan. Sante aja Man. Kalau kau mbujang terus, kau pasti dianggap ngga berguna. Sebobrok-bobroknya laki-laki, kalau dia bisa buat anak pasti dia akan dituakan.”
“Ya tapi jaman sekarang kan perlu banyak biaya buat ngidupin anak. Mulai dari makan, sandang, sekolah, belum ntar buat jajannya. Jaman sekarang jajannya kan aneh-aneh. Apalagi kalau di kota, jajannya itu lho mas bisa nglebihi buat naek haji.”
“Ah kau ini bisa saja kalau ngomong. Ya udah maen yuk ke rumah.”
Tanpa pikir panjang, kuikuti langkah mas Gito menuju rumahnya. Rumahnya terletak di ujung desa. Dindingnya belum di semen dan lantainya masih beralas tanah. Dari semua keluarga di desa Suaka ini, keluarga mas Gito termasuk salah satu keluarga miskin. Di depan rumah mereka terlihat istri Mas Gito dan anaknya yang berumur enam tahun.
“Mbak Janti, anaknya lucu ya. Kelas berapa sekarang?” kataku pada istri mas Gito yang sedang menggendong anaknya, Buyung.”
“walah Man. Buat makan aja pas-pasan. Ngapain sekolah. Orang yang sekolah tinggi aja banyak yang nganggur. Kaya kamu, pasti masih minta sama mas mu kan.”
Jantungku sedikit tersedak. Kata-kata terakhirnya sedikit tidak mengenakkan, tapi untuk menutupi amarahku sedikit kulemparkan senyum kecil padanya.
Tidak lama kemudian, mas Gito keluar dari rumahnya. Ia membawa kue brondong dan teh hangat.
“Nah kau udah lihat kan enaknya berkeluarga.”
Senyum tipis dan anggukan kepala menjadi senjata utamaku untuk mengimbangi perkataan Mas Gito dan Mbak Janti.
***
Dua puluh tahun sudah aku merantau di Kalimantan. Aku pulang ke kampong halamanku untuk menjenguk makam leluhurku. Tanpa disangka kampungku kini telah berubah. Dulu kampungku asri dengan suasana pertanian, kini telah menjadi sebuah pemukiman industri yang penuh dengan bangunan pabrik di setiap sudutnya. Tak ada lagi makam leluhurku dan tak ada lagi senyum teman-teman yang menyambutku.
Rasa heranku membuahkan pertanyaan besar dalam pikiranku dan kulontarkan hal tersebut kepada seorang tukang ojek.
“Maaf pak, kenapa desa Suaka sekarang bisa berubah seperti ini?”
Tukang ojek tersebut menjawabku dengan rasa takut, “Ohh iya mas, ini semua karena ulah Buyung anaknya Gito yang sekarang menjabat jadi wali kota. Semenjak dia menikah dengan pengusaha dari Belanda dan menjadi wali kota, dia seenaknya merubah desa ini menjadi seperti ini.”
***

1 komentar:

Tolush mengatakan...

Hi…



Ada info penting banget nih.. Tahun ini Jawaban.Com kembali mengadakan event gede-gedean untuk Para Bloger Kristen, yaitu Christian Indonesian Blogger Festival 2009 (CIBfest 2009). CIBfest kali ini bertema "Menjadi Jawaban Melalui Kreativitas Yang Berdampak". Ada hadiah berupa uang tunai Rp. 15 Juta Rupiah untuk 3 orang pemenang.Pastikan kamu ikutan juga Writing Competitionnya, siapa tahu hasil tulisan kamu terpilih untuk dibukukan! Yupz, Jawaban.Com bekerjasama dengan PT. Elex Media Komputindo akan menerbitkan buku kumpulan karya finalis CIBfest. Kamu ingin ikut terlibat dalam event ini? Caranya gampang dan Gratis!!! Ayo buruan daftar!! Pendaftaran terakhir tgl 30 Agustus 2009 loh.. Jadi log on langsung ke www.cibfest.jawaban.com



Di tunggu yaaa….. God Bless…